Jumat, 19 September 2014

Pertemuan Ketiga (Debat Pilkada Langsung atau Tidak Langsung)

Dalam sesi debat ini terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pro pilkada langsung dan kelompok pro pilkada tidak langsung. Saya termasuk di dalam kelompok pro pilkada tidak langsung.



Dalam nilai fenomenalisme, seperti yang kita lihat di masyarakat dalam pilkada kemaren banyak sekali masalah masalah penyogokan yang terjadi apabila di lakukan. Ada juga aksi serangan fajar yaitu sebelum pilkada mulai mungkin para pihak-pihak tertentu berkeliling dan menjanjikan uang agar warga bisa memilih mereka. Tapi beberapa ada masyarakat yang mungkin hanya akan menerima uangnya saja tapi tidak memilih. Ini ada contoh dari aksi penyogokan:


Serangan Fajar adalah istilah bagi-bagi uang untuk membeli suara yang di lakukan oleh beberapa orang untuk memenangkan calon yang bakal menduduki posisi sebagai pimpinan. Sehari menjelang pemilihan Pilkada Kabupaten Temanggung dan juga Propinsi Jawa Tengah,(hari ini Minggu 26 Mei 2013), masyarakat telah berbisik-bisik mengenai serangan fajar itu.
Serangan fajar bagi mereka sudah “lazim” dalam berbagai pemilihan, bukan hanya saat pilkada, namun saat pemilihan caleg (calon legislatif) juga banyak “pasukan” melakukan aksi serangan fajar tersebut.Meski sebenarnya tindakan itu menyalahi aturan yang berlaku namun tetap saja beberapa orang sigap melakukannya. Parahnya masyarakatpun kadang “mendambakan” tindakan serangan fajar yang nyatanya dilakukan pada malam hari dan bukan dini hari.
Seperti semalam, saat saya berkunjung ke tempat saudara, datanglah dua orang yang ternyata pasukan salah satu kandidat cabup untuk membagikan “angpao” guna kemenangannya. Setelah terjadi transaksi_-tawar menawar harga-akhirnya diputuskan saudara saya itu menerima Rp 40.000 untuk dua suara, dia dan suaminya.Saudara itu sempet menawari saya pula, tapi saya tolak dengan halus.
Setelah kepergian dua orang “dermawan’ itu saudara saya berkata “Biar saja aku terima uangnya, toh yang aku pilih siapa mereka tidak tahu”. Saya hanya tersenyum saja.
Segera  saya menelepon beberapa saudara lain dan juga teman-teman untuk menanyakan apakah mereka mendapatkan serangan fajar juga. Dari mereka saya menjadi tahu bahwa ada beberapa kandidat lainpun melakukan tindakan serupa. Namun besar dari rupiah yang mereka peroleh sangat beragam, ada yang mendapat Rp 20.000. Rp 50.000 bahkan ada yang mendapat Rp 15.000. Dan ternyat mereka juga mengatakan hal yang sama dengan pernyataan saudara saya bahwa biar saja uang mereka terima tapi untuk memilih kan tidak ada yang tahu, Miris.
Menurut kasak kusuk yang saya dengar dari beberapa teman ada yang mengatakan bahwa uang yang mereka terima itu sejatinya sudah di-sunat oleh para “pasukan gerilya” serangan fajar tersebut, karena terbukti untuk satu kandidat nominalnya beragam tergantung kepandaian bertransaksi.
Hari ini, masyarakat telah berbondong-bondong mendatangi TPS yang telah ditentukan, apakah mereka ingat perjanjian saat serangan fajar berlangsung atau tidak, hanya mereka saja yang tahu, selebihnya setelah diperoleh hasil barulah para pelaku serangan fajar bisa menghitung berapa rupiah yang mereka keluarkan dan berapa suara yang mereka dapatkan.
Dengan kejadian serangan fajar ini seyogyanya masyarakat bisa memilah dan memilih mana pemimpin yang bisa mereka percayai dan bias mengayomi mereka.
Semoga untuk Temanggung dan Jawa Tengah medapatkan pemimpin yang amanah.


Dalam nilai Rasionalis, kecurangan akan selalu terjadi lalu kelompok pro pilkada langsung menyatakan bahwa kita harus memperbaiki moral bangsa, tetapi apakah cara itu efektif? menurut saya tidak karena apa mungkin kita berkampanye keliling-keliling ke satu-satu warga untuk memperbaiki moral mereka tentu tidak. Kalau dalam pilkada tidak langsung tentunya DPR pasti lebih mengetahui potensi-potensi yang dimiliki calonnya tersebut. Jadi tidak mungkin DPR mengecewakan masyarakat. DPR juga bertugas menampung seluruh keinginan, pendapat, dan aspirasi masyarakat agar DPR tidak terjadi bentrok dengan masyarakat.

Dalam segi pragmantisdalam hal ini tentunya apabila pilkada tidak langsung anggaran akan jauh berhemat. Karena tidak perlu lagi untuk mencetak surat suara untuk pilkada, dan biaya pengamanan terjadinya kerusuhan akan berkurang juga. Sisa dari anggaran tersebut bisa digunakan untuk keperluan lainya.

Sekian dulu sesi debat dari saya apabila salah-salah kata atau ada sesuatu yang tidak benar mohon dimaafkan. Semoga apa yang saya bahas bisa bermanfaat dan mmbuka pikiran kalian dalam pilkada. Ditunggu yaaaa komentarnya. TerimaKasih.




17 komentar:

  1. Bagus artikerlnya, mendidik juga untuk kaum muda kedepanya, semoga artikel selanjutnya lebih bermanfaat :)

    BalasHapus
  2. bagus nih post nya bermanfaat ditunggu post berikut nya ya

    BalasHapus
  3. Waaah blognya sangat bermanfaat dan sangat menambah wawasan bangett hehe ditunggu post selanjutnya yaa

    BalasHapus
  4. Hai Tasya, sangat membantu sekali blognya bisa menambah ilmu dan wawasan. Ditunggu ya post selanjutnya:)

    BalasHapus
  5. bagus sekali pemikirannya saya setuju membuka wawasan sekali 95 yaaa

    BalasHapus
  6. kereen blognnya ditunggu post berikutnya 90 nilainya

    BalasHapus
  7. Tasyaa blog nya udh lengkappp hehehe kontras wrna tulisannya juga udh bagus hehee 88 deh syaa buat lu

    BalasHapus
  8. lengkap sekali blognya tasyaaa:) 95

    BalasHapus
  9. Wah setuju banget nih, 100 yaa!!

    BalasHapus