Dalam
sesi debat ini terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pro pilkada
langsung dan kelompok pro pilkada tidak langsung. Saya
termasuk di dalam kelompok pro pilkada tidak langsung.
Dalam
nilai fenomenalisme, seperti yang kita lihat di masyarakat dalam pilkada kemaren
banyak sekali masalah masalah penyogokan yang terjadi apabila di lakukan. Ada
juga aksi serangan fajar yaitu sebelum pilkada mulai mungkin para pihak-pihak
tertentu berkeliling dan menjanjikan uang agar warga bisa memilih mereka. Tapi
beberapa ada masyarakat yang mungkin hanya akan menerima uangnya saja tapi
tidak memilih. Ini ada contoh dari aksi penyogokan:
Serangan Fajar adalah istilah bagi-bagi uang untuk membeli suara
yang di lakukan oleh beberapa orang untuk memenangkan calon yang bakal
menduduki posisi sebagai pimpinan. Sehari menjelang pemilihan Pilkada Kabupaten
Temanggung dan juga Propinsi Jawa Tengah,(hari ini Minggu 26 Mei 2013),
masyarakat telah berbisik-bisik mengenai serangan fajar itu.
Serangan fajar bagi mereka sudah “lazim” dalam berbagai pemilihan,
bukan hanya saat pilkada, namun saat pemilihan caleg (calon legislatif) juga
banyak “pasukan” melakukan aksi serangan fajar tersebut.Meski sebenarnya
tindakan itu menyalahi aturan yang berlaku namun tetap saja beberapa orang
sigap melakukannya. Parahnya masyarakatpun kadang “mendambakan” tindakan
serangan fajar yang nyatanya dilakukan pada malam hari dan bukan dini hari.
Seperti semalam, saat saya berkunjung ke tempat saudara, datanglah
dua orang yang ternyata pasukan salah satu kandidat cabup untuk membagikan
“angpao” guna kemenangannya. Setelah terjadi transaksi_-tawar menawar
harga-akhirnya diputuskan saudara saya itu menerima Rp 40.000 untuk dua suara,
dia dan suaminya.Saudara itu sempet menawari saya pula, tapi saya tolak dengan
halus.
Setelah kepergian dua orang “dermawan’ itu saudara saya berkata
“Biar saja aku terima uangnya, toh yang aku pilih siapa mereka tidak tahu”.
Saya hanya tersenyum saja.
Segera saya menelepon beberapa saudara lain dan juga
teman-teman untuk menanyakan apakah mereka mendapatkan serangan fajar juga.
Dari mereka saya menjadi tahu bahwa ada beberapa kandidat lainpun melakukan
tindakan serupa. Namun besar dari rupiah yang mereka peroleh sangat beragam,
ada yang mendapat Rp 20.000. Rp 50.000 bahkan ada yang mendapat Rp 15.000. Dan
ternyat mereka juga mengatakan hal yang sama dengan pernyataan saudara saya
bahwa biar saja uang mereka terima tapi untuk memilih kan tidak ada yang tahu,
Miris.
Menurut kasak kusuk yang saya dengar dari beberapa teman ada yang
mengatakan bahwa uang yang mereka terima itu sejatinya sudah di-sunat oleh para
“pasukan gerilya” serangan fajar tersebut, karena terbukti untuk satu kandidat
nominalnya beragam tergantung kepandaian bertransaksi.
Hari ini, masyarakat telah berbondong-bondong mendatangi TPS yang
telah ditentukan, apakah mereka ingat perjanjian saat serangan fajar
berlangsung atau tidak, hanya mereka saja yang tahu, selebihnya setelah
diperoleh hasil barulah para pelaku serangan fajar bisa menghitung berapa
rupiah yang mereka keluarkan dan berapa suara yang mereka dapatkan.
Dengan kejadian serangan fajar ini seyogyanya masyarakat bisa
memilah dan memilih mana pemimpin yang bisa mereka percayai dan bias mengayomi
mereka.
Semoga
untuk Temanggung dan Jawa Tengah medapatkan pemimpin yang amanah.
Sumber =
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/05/26/serangan-fajar-jelang-pilkada-563086.html
Dalam
nilai Rasionalis, kecurangan akan selalu terjadi lalu kelompok pro pilkada langsung
menyatakan bahwa kita harus memperbaiki moral bangsa, tetapi apakah cara itu
efektif? menurut saya tidak karena apa mungkin kita berkampanye
keliling-keliling ke satu-satu warga untuk memperbaiki moral mereka tentu
tidak. Kalau dalam pilkada tidak langsung tentunya DPR pasti lebih mengetahui
potensi-potensi yang dimiliki calonnya tersebut. Jadi tidak mungkin DPR
mengecewakan masyarakat. DPR juga bertugas menampung seluruh keinginan,
pendapat, dan aspirasi masyarakat agar DPR tidak terjadi bentrok dengan masyarakat.
Dalam
segi pragmantis, dalam hal ini tentunya apabila pilkada tidak langsung anggaran
akan jauh berhemat. Karena tidak perlu lagi untuk mencetak surat suara untuk
pilkada, dan biaya pengamanan terjadinya kerusuhan akan berkurang juga. Sisa dari
anggaran tersebut bisa digunakan untuk keperluan lainya.
Sekian
dulu sesi debat dari saya apabila salah-salah kata atau ada sesuatu yang tidak
benar mohon dimaafkan. Semoga apa yang saya bahas bisa bermanfaat dan mmbuka
pikiran kalian dalam pilkada. Ditunggu yaaaa komentarnya. TerimaKasih.

Bagus artikerlnya, mendidik juga untuk kaum muda kedepanya, semoga artikel selanjutnya lebih bermanfaat :)
BalasHapusmakasih yaa sigit:)
Hapusbagus nih post nya bermanfaat ditunggu post berikut nya ya
BalasHapusmakasih yaa erwin:)
HapusWaaah blognya sangat bermanfaat dan sangat menambah wawasan bangett hehe ditunggu post selanjutnya yaa
BalasHapusmakasih yaa caca:)
HapusHai Tasya, sangat membantu sekali blognya bisa menambah ilmu dan wawasan. Ditunggu ya post selanjutnya:)
BalasHapusmakasih yaa diraa:)
Hapusbagus sekali pemikirannya saya setuju membuka wawasan sekali 95 yaaa
BalasHapusmakasih yaa unggul:)
Hapuskereen blognnya ditunggu post berikutnya 90 nilainya
BalasHapusTasyaa blog nya udh lengkappp hehehe kontras wrna tulisannya juga udh bagus hehee 88 deh syaa buat lu
BalasHapusmakasih yaa meyyy:)
Hapuslengkap sekali blognya tasyaaa:) 95
BalasHapusmakasih yaaa yasmin:))))
HapusWah setuju banget nih, 100 yaa!!
BalasHapusmaksihhhh jo
Hapus