Jumat, 03 Oktober 2014

Field Trip

Haiiiiiii:)))

Hari Kamis tanggal 2 Oktober 2014 Fakultas Psikologi mengadakan acara field trip ke Kampung Betawi yang berada di daerah Jakarta Selatan. Pertama kita kumpul di Universitar Tarumanagara jam 06:45 tetapi masih banyak yang telat, disana kita diberi pembekalan dulu istilahnya kuliah singkat karena memang sangat cepat karena kita mengejar waktu takut diperjalanan macet. Tujuan kita ke sana adalah untuk mengetahui mengenai sini dan kebudayaan Betawi lebih banyak lagi.

Sesampai disana kita berkumpul lagi dengan para dosen mengenai apa yang kita lakukan di sana dan pukul berapa kita harus selesai. Lalu kita makan siang dahulu. Setelah itu proses mengerjakan tugas dimulai.



Pertama-tama kita menginterview Bapak Iyan yang berumur 30 tahun dia adalah seorang penjaga permainan perahu bebek. Pak Iyan ini sudah bekerja selama 6tahun. Keuntungan yang didapat lumayan banyak apalagi kalau hari libur karena di Kampung Betawi banyak pengunjug yang datang. Kesulitan yang di hadapinya masalah cuaca hujan dan angin yang kencang. Sebelumnya Pak Iyan ini pernah juga bekerja di bengkel. Pak Iyan juga mempunyai niat untuk pindah pekerjaan Ia ingin membuka usaha kuliner, tetapi karena sudah nyaman jadi Ia mengurungkan niatnya, Menurut Pak Iyan dampak dari modernisasi ke pekerjaannya tidak ada karena pengunjungnya kebanyakan anak-anak mereka tetap ingin bermain wahana perahu bebek. Berikut ini foto-fotonya:
Dessy yang sedang menginterview Pak Iyan.

Permainan Perahu Bebek.

Kedua kita menginterview Pak Anwar, berumur 42 tahun. Pak Anwar adalah seorang penjual es doger dan sudah berjualan selama 4 tahun. Sebelumnya Pak Anwar adalah seorang penjual nasi goreng karena kalau jualan nasi goreng harus di malam dan itu merepotkan jadi lebih enak berjualan es doger di siang hari. Penghasilan Pak Anwar setiap harinya tidak menentu tergantung cuaca juga kalau cuaca hujan pasti jarang ada yang membeli es doger. Dampak terhadap moderinisasinya tidak terlalu berpengaruh karena es doger  adalah es zaman dahulu tapi banyak orang juga yang masih mencari es doger dan banyak juga yang suka dengan es doger ini. Berikut foto-fotonya:
Foto bersama Pak Anwar.


Pak Anwar sedang membuat es doger.





Ketiga kita menginterview Pak Sincan yang berumur 25 tahun. Pak Sincan sudah mempunyai pengalaman berjualan dari kecil karena ikut orang tuanya berjualan. Pak Sincan tinggal di daerah Kampung Betawi. Suka dukanya Pak Sincan selama berjualan adalah sedih kalau hujan jadi tidak bisa berjualan dan juga pernah di usir sama Petugas Satpol PP, senangnya kayak kita-kita ini (para mahasiswa atau siswa-siswi) dateng untuk interview jadi bisa eksis dikit, biar terkenal hahaha. Dulu pernah bekerja di kantoran jadi office boy tetapi tidak cocok karena tidak kuat dengan AC. Penghasilan Pak Sincan cukup bisa untuk membiayayi ini. Pak Sincan ini juga ingin melestarikan kuliner kerak telor. Dampak modernisasinya juga tidak ada karena kalau masalah perut tidak ada yang bisa tahan, dan banyak juga yang masih mencari kerak telor. Pak Sincan mempunyai pengalaman menarik yaitu pernah berjualan di Istana Negara waktu menemani ayahnya berjualan. Bapak Presiden Soeharto pernah berhenti di pinggir jalan untuk membeli kerak telornya di daerah mampang. Berikut foto-fotonya:
Foto Bareng Pak Sincan. 
Foto Bareng Pak Sincan.

Kempat ada Tika murid kelas 3 SMA yang berumur 17tahun, ia adalah seorang penari sanggar tari di Kampung Betawi. Tika sudah menari sejak kelas 5 SD. Tika sangat menyukai tari tradisional khususnya Tari Betawi, Tika ingin melestarikan Tari Betawi ini. Ada beberapa foto saat Tika sedang mengajarkan tari kedapan siswa SMP yang sedang berkunjung dan kita ikut mencoba menari betawi juga:
foto bersama Tika.


foto bersama Tika.


Saat Tika mengajarakan tari Betawi.

Kelima ada Ibu Hj. Oni yang berumur 50tahun, Ibu Oni menjual Batik selama 2 tahun. Ibu Oni tinggal di daerah Tanggerang Selatan. Ibu Oni memulai bekerja dari ide anaknya yang ingin melestarikan batik betawi. Batik printing kisaran harga Rp 50.000 sampai Rp 150.000, batik cat antara Rp 150.000 sampai Rp300.000, dan batik tulis dari Rp 300.000 sampai Rp 2.000.000. 
Ibu Hj. Oni

Batik Betawi.

Foto bersama Ibu Hj. Oni.

Terakhir kita menginterview Pak Siswanto adalah ketua pelatihan olahraga militer selama 33 tahun dan Pak Musa adalah tim  kesehatan marinir selama 21 tahun. Pengalaman yang sangat menarik bisa berbincang-bincang dengan bapak militer ini. 


Para marinir yang sedang berlatih untuk lomba.

Foto bersama.

Foto bersama.

Itu tadi hasil dari perjalanan field trip dari kelompok Sforzo. Banyak juga foto-foto kelompok kita dan juga foto-foto bersama dengan para Dosen. Senang sekali rasanya bisa ke Kampung Betawi ini. 
Sforzo.

Bersama Pak Carolus.

Sforzo.

Bersama ondel-ondel.

Bersama Para Marinir Angkatan Laut.

Bersama Pak Mika, Pak Agus, dan Pak Raja.

Bersama Pak Mika, Pak Agus, dan Pak Raja.

Bersama Pak Carolus.

10 komentar: