Selasa, 11 November 2014

Perkembangan Anak pada Usia 0 Tahun sampai 4 Tahun

Perkembangan Anak pada Usia 0 Tahun sampai 4 Tahun

Latar Belakang
     Anak merupakan makhluk yang membutuhkan perhatian, kasih sayang dan tempat sebagai wadah untuk berkembang. Anak juga merupakan pribadi yang sangat peka terhadap situasi yang terjadi di lingkungan. Dalam proses perkembangan anak, kita akan menjumpai beberapa prinsip yakni perkembangan tidak terbatas, perkembangan berlangsung secara berantai, dan sebagainya. Perkembangan adalah suatu perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang lebih rendah sampai ke tahapan yang kompleks. Di samping itu, perkembangan anak juga tidak dapat kita lepaskan dari faktor pendekatan perkembangan, yaitu pendekatan fisik, dan lain-lain.
     Melalui makalah ini akan mendapatkan cara-cara untuk memahami anak usia 0-4 tahun dalam perkembangannya agar tidak salah pola asuh. Penulis berharap agar orangtua mengerti arti perkembangan dari perkembangan anak dan bisa menerapkannya di kehidupan. Sumber data yang penulis gunakan adalah dari buku-buku. Penulis mencoba untuk menelaah lebih lanjut mengenai perkembangan anak usia 0-4 tahun untuk lebih memahaminya.
    

Pengertian Perkembangan
     Pengertian perkembangan menurut umum. “Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional” (Susanto, 2011).
     Pengertian psikologi perkembangan. “Psikologi perkembangan adalah bagian psikologi yang secara khusus mempelajari pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik, kognitif maupun psikososial manusia sejak masa konsepsi sampai kematian” (Dariyo, 2007).

Prinsip Perkembangan
     Perkembangan tidak terbatas. “Artinya tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambung. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendiri-sendiri” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.4).
     Perkembangan dimulai dari respon-respon yang bersifat umum menuju ke yang khusus. “Contohnya, seorang bayi mula-mula akan bereaksi tesenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, ia mulai bisa membedakan wajah-wajah tertentu” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.4).
     Perkembangan manusia merupakan totalitas. “Sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.4).
     Perkembangan yang berlangsung secara berantai. “Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara kedua fase dengan fase lainnya, tahapan perkembangan ini bersifat universal. Perkembangan bicara misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata-kata terlebih dahulu ia akan mengoceh” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.5).
     Perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas. “ Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai dengan yang sebenarnya merupakan tingkah laku yang wajar untuk fase tertentu itu” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.5).
     Perkembangan mengikuti pola yang pasti, maka perkembang dapat diperkirakan. “Seorang anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang ‘kurang’ dari anak lain, dalam perkembangan selanjutnya akan menampakkan suatu kecenderungan perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak lain seusianya” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.5).
     Perkembangan karena faktor kematangan dan belajar. Gunarsa, dan Gunarsa (2004) mengatakan:
     Jadi sekalipun semua orang mengikuti pola perkembangan yang kurang lebih
     sama, kecepatan perkembangan pada sesuatu aspek pada tiap orang berbeda-
     beda, misalnya anak-anak dengan umur yang sama dengan umur yang sama
     tidak selalu mencapai titik atau tingkat perkembangan fisik, mental, sosial, emosi
     yang sama (h. 5).

Pendekatan Perkembangan
     Fisik. Suatu perkembangan tubuh, jasmani individu yang diikuti dengan aktivitas dirinya terhadap suatu benda dan lingkungannya. Individu dalam rentang kehidupannya dari tahun-tahun pertama hingga tahun-tahun berikutnya mencapai masa akil balig mengalami pertumbuhan dan perubahan yang pesat. Pertumbuhan menunjukkan bahwa setiap individu mempunyai periode perkembangannya sendiri-sendiri. Walaupun didapati adanya norma-norma perkembangan yang sifatnya normal.
     Oleh karena itu perkembangan fisik merupakan suatu proses ativitas indiividu dengan pertumbuhan yang terkoordinasi diantara jasmani, fisiologi, dan psikologi. Pertumbuhan jasmani terlihat pada usia 3 tahun, yaitu proposisi badan dan jaringan urat daging yang berkembang sampai usia 5 tahun. Perkembangan fisik jasmani ini tidak akan terlepas dari adanya perkembangan anak itu sendiri. Yaitu berhubungan dengan kekuatan badannya, maka anak dapat menyandarkan seluruh tubuhnya pada satu kaki. Sehingga anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usia kematangan secara fisiologis dan psikologisnya.
     Kognitif. Perkembangan kognitif sangat ditentukan oleh perkembangan otak dan panca indera sebagai pengamatnya. Perilaku yang mengakibatkan anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman sesuatu yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan adalah kognitif. Piaget (dikutip dalam Baraja, 2008) mengatakan “perkembangan anak lebih banyak dipengaruhi oleh kognitif, yaitu mengenal, mengerti dan memahami dengan menggunakan berfikir dan pengamatan.” Sehingga dapat dikatakan bahwa kognitif anak merupakan suatu sistem untuk menghasilkan suatu pengetahuan dengan cara memasukkan informasi dari luar dirinya atau stimulus yang masuk ke dalam reseptor panca indra, pengamatan, dan pendengaran.
     Psikososial. Psikososial merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Secara umum pengertian perasaan adalah suasana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, suka dan duka, baik dan buruk. Namun perasaan anak seringkali berbeda dalam mewujudkan perasaanya. Contohnya, dua anak yang mempunyai perasaan takut terhadap binatang kecoa. Anak pertama takut terhadap binatang kecoa, karena binatang kecoa yang menjijikan, sedangkan anak yang kedua merasa geli bila disentuh kakinya.
     “Dari suasana afektif yang ada pada individu tersebut, maka perkembangan afektif pada individu terjadi karena adanya sesuatu yang terjadi pada saat mengalami, melihat, menghadapi, mendengar, dan merasakan suatu situasi yang terjadi padanya” (Baraja, 2008).

Faktor-faktor Perkembangan
     Bakat atau pembawaan. Anak dilahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat diumpamakan sebagai bibit kesanggupan atau bibit kemungkinan yang terkandung dalam diri anak. Setiap anak memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya, seperti bakat musik, seni, agama, akal yang tajam dan sebagainya. Anak yang mempunyai bakat musik misalnya, niscaya minat dan perhatiannya akan sangat besar terhadap musik. Dengan demikian jelas bahwa bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak.
     Sifat-sifat keturunan. Sifat anak diturunkan dari orang tua atau nenek moyang dapat berupa fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka, bentuk badan, suatu penyakit. Sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, pemarah, pendiam, dan sebagainya. Dengan demikian jelas bahwa sifat-sifat keturunan itu menentukan perkembangan seseorang.
     Pengalaman. Pengalaman dengan heriditas fisik merupakan dasar perkembangan struktur kognitif. Dalam hal ini sering kali disebut sebagai pengalaman fisis dan logika matematis. Kedua pengalaman ini secara psikologi berbeda. Pengalaman fisis melibatkan objek yang kemudian membuat abstraksi dari objek tersebut. Sedangkan pengalaman logika matematis merupakan pengalaman di mana diabstraksikan bukan dari objek melainkan dari akibat tindakan terhadap objek.
     Transmisi sosial. Transmisi sosial digunakan untuk mempresentasikan pengaruh budaya terhadap pola berpikir anak. Penjelasan dari guru, orang tua, informasi dari buku, meniru, merupakan bentuk transmisi sosial. Kebudayaan memberikan hal-hal penting bagi perkembangan kognitif, seperti dalam membaca, dapat menerima transmisi sosial apabila anak dalam keadaan mampu menerima informasi. Untuk menerima informasi itu terlebih dahulu anak harus memiliki struktur kognitif yang memungkinkan anak dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi tersebut.
     Ekuilibrasi. Merupakan keadaan di mana diri setiap anak terdapat proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan ketiga faktor tadi, yaitu heriditas, pengalaman, dan transmisi sosial. Alasan yang memperkuat adanya ekuilibrasi, yaitu di mana anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan. Akibat dari interaksi itu anak berhadapan dengan kontradiksi, yaitu apabila situasi pada pola penalaran yang lama tidak dapat menanggapi stimulus. Kontradiksi ini menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang. Dalam keadaan ini individu secara aktif mengubah pola penalarannya agar dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan stimulus baru yang disebut ekuilibras. (Sumanto, 2014)

Proses Perkembangan Anak dari 0-4 Tahun
     Secara fisik. Perkembangan fisik anak selalu berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi ank-anak.
    Proses perkembangan fisik anak pada usia 0-1 tahun. Proses perkembangan usia 0-1 tahun, yaitu (a) meraih benda, (b) bertepuk tangan, dan (c) berjalan sambil berpegangan pada meja.
     Proses perkembangan fisik anak pada usia 1-2 tahun. Proses perkembangan usia 0-1 tahun,yaitu (a) berjalan tanpa bantuan, (b) mulai berlari, (c) melambaikan tangan, dan (d) menendan bola.
     Proses perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun. Proses perkembangan usia 2-3 tahun, yaitu (a) memanjat, (b) megang pensil seperti menulis, dan (c) mengayuh sepeda roda tiga.
     Proses perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun. Proses perkembangan usia 3-4 tahun, yaitu dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki, dan gigi susu sudah lengkap.

Simpulan
     Perkembangan anak merupakan hal yang selalu menadapat perhatian ekstra dari orangtua sebagai pemerhati sekaligus pendamping. Perkembangan bermakna perubahan yang pada awalnya anak hanya bisa melirik atau menolehkan kepalanya kearah orangtuanya, merangkak, berjalan, sampai akhirnya berdiri. Terdapat banyak prinsip-prinsip dari perkembangan anak tersebut, contohnya perkembangan anak yang mempunyai ciri khas tingkah laku atau ciri khas tubuh. Perkembangan anak juga mempunyai faktor-faktor yang mendasari, yaitu bakat, keturunan, pengalaman, transmisi sosial, dan ekuilibrasi. Sehingga perkembangan anak berbeda-beda macamnya tergantung dari karakteristik anak tersebut dan lingkungannya.
       
DAFTAR PUSTAKA
Baraja, A. (2008). Psikologi perkembangan tahapan-tahapan dan 
     aspek-aspeknya dari 0 tahun sampai akil baligh 
     (3rd ed.). Jakarta: Studia Press.
Dariyo, A. (2007). Psikologi perkembangan anak tiga tahun 
     pertama. Bandung: Refika Aditama.
Desmita. (2006). Psikologi perkembangan (2nd ed.). Bandung: 
     Remaja Rosdakarya.
Gunarsa, S. D., dan Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi 
     perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Sumanto. (2014). Psikologi perkembangan fungsi dan teori 
     (1st ed.). Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service.
Susanto, A. (2011). Perkembangan anak usia dini: Pengantar 
     dalam berbagai aspeknya (1st ed.). Jakarta: Kencana 
     Prenada Media Group.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar