Perkembangan
Anak pada Usia 0 Tahun sampai 4 Tahun
Latar Belakang
Anak merupakan
makhluk yang membutuhkan perhatian, kasih sayang dan tempat sebagai wadah untuk
berkembang. Anak juga merupakan pribadi yang sangat peka terhadap situasi yang
terjadi di lingkungan. Dalam proses perkembangan anak, kita akan menjumpai
beberapa prinsip yakni perkembangan tidak terbatas, perkembangan berlangsung
secara berantai, dan sebagainya. Perkembangan adalah suatu perubahan yang
terjadi secara bertahap dari tingkat yang lebih rendah sampai ke tahapan yang
kompleks. Di
samping itu, perkembangan anak juga tidak dapat kita lepaskan dari faktor pendekatan
perkembangan, yaitu pendekatan fisik, dan lain-lain.
Melalui makalah ini akan mendapatkan
cara-cara untuk memahami anak usia 0-4 tahun dalam perkembangannya agar tidak
salah pola asuh. Penulis berharap agar orangtua mengerti arti perkembangan dari
perkembangan anak dan bisa menerapkannya di kehidupan. Sumber data yang penulis
gunakan adalah dari buku-buku. Penulis mencoba untuk menelaah lebih lanjut
mengenai perkembangan anak usia 0-4 tahun untuk lebih memahaminya.
Pengertian Perkembangan
Pengertian perkembangan menurut umum. “Perkembangan merupakan suatu perubahan,
dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif.
Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi
fungsional” (Susanto, 2011).
Pengertian
psikologi perkembangan. “Psikologi perkembangan adalah bagian psikologi
yang secara khusus mempelajari pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik,
kognitif maupun psikososial manusia sejak masa konsepsi sampai kematian”
(Dariyo, 2007).
Prinsip Perkembangan
Perkembangan tidak terbatas. “Artinya tumbuh menjadi besar tetapi
mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan
berkesinambung. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan
berikutnya tidak terlepas, berdiri sendiri-sendiri” (Gunarsa, & Gunarsa,
2004, h.4).
Perkembangan
dimulai dari respon-respon yang bersifat umum menuju ke yang khusus. “Contohnya,
seorang bayi mula-mula akan bereaksi tesenyum bila melihat setiap wajah
manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, ia mulai bisa membedakan wajah-wajah
tertentu” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.4).
Perkembangan
manusia merupakan totalitas. “Sehingga akan ditemui kaitan erat antara
perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang
berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain” (Gunarsa, & Gunarsa,
2004, h.4).
Perkembangan
yang berlangsung secara berantai. “Setiap orang akan mengalami tahapan
perkembangan secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas
antara kedua fase dengan fase lainnya, tahapan perkembangan ini bersifat universal. Perkembangan bicara misalnya,
sebelum seorang anak fasih berkata-kata terlebih dahulu ia akan mengoceh”
(Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.5).
Perkembangan
memiliki ciri dan sifat yang khas. “ Setiap fase perkembangan memiliki ciri
dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah
laku buruk atau kurang sesuai dengan yang sebenarnya merupakan tingkah laku
yang wajar untuk fase tertentu itu” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004, h.5).
Perkembangan
mengikuti pola yang pasti, maka perkembang dapat diperkirakan. “Seorang
anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang ‘kurang’ dari anak lain, dalam
perkembangan selanjutnya akan menampakkan suatu kecenderungan perkembangan yang
relatif lebih lambat dari anak lain seusianya” (Gunarsa, & Gunarsa, 2004,
h.5).
Perkembangan
karena faktor kematangan dan belajar. Gunarsa, dan Gunarsa (2004)
mengatakan:
Jadi sekalipun semua orang mengikuti pola
perkembangan yang kurang lebih
sama, kecepatan perkembangan pada sesuatu
aspek pada tiap orang berbeda-
beda, misalnya anak-anak dengan umur yang
sama dengan umur yang sama
tidak selalu mencapai titik atau tingkat
perkembangan fisik, mental, sosial, emosi
yang sama (h. 5).
Pendekatan Perkembangan
Fisik. Suatu perkembangan tubuh, jasmani individu yang diikuti
dengan aktivitas dirinya terhadap suatu benda dan lingkungannya. Individu dalam
rentang kehidupannya dari tahun-tahun pertama hingga tahun-tahun berikutnya
mencapai masa akil balig mengalami pertumbuhan dan perubahan yang pesat.
Pertumbuhan menunjukkan bahwa setiap individu mempunyai periode perkembangannya
sendiri-sendiri. Walaupun didapati adanya norma-norma perkembangan yang
sifatnya normal.
Oleh karena itu perkembangan fisik
merupakan suatu proses ativitas indiividu dengan pertumbuhan yang terkoordinasi
diantara jasmani, fisiologi, dan psikologi. Pertumbuhan jasmani terlihat pada
usia 3 tahun, yaitu proposisi badan dan jaringan urat daging yang berkembang
sampai usia 5 tahun. Perkembangan fisik jasmani ini tidak akan terlepas dari
adanya perkembangan anak itu sendiri. Yaitu berhubungan dengan kekuatan
badannya, maka anak dapat menyandarkan seluruh tubuhnya pada satu kaki.
Sehingga anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usia
kematangan secara fisiologis dan psikologisnya.
Kognitif. Perkembangan kognitif sangat
ditentukan oleh perkembangan otak dan panca indera sebagai pengamatnya.
Perilaku yang mengakibatkan anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman sesuatu
yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan adalah kognitif. Piaget (dikutip
dalam Baraja, 2008) mengatakan “perkembangan anak lebih banyak dipengaruhi oleh
kognitif, yaitu mengenal, mengerti dan memahami dengan menggunakan berfikir dan
pengamatan.” Sehingga dapat dikatakan bahwa kognitif anak merupakan suatu
sistem untuk menghasilkan suatu pengetahuan dengan cara memasukkan informasi
dari luar dirinya atau stimulus yang masuk ke dalam reseptor panca indra,
pengamatan, dan pendengaran.
Psikososial. Psikososial merupakan suatu perasaan
yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Secara umum pengertian perasaan
adalah suasana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, suka dan duka, baik
dan buruk. Namun perasaan anak seringkali berbeda dalam mewujudkan perasaanya.
Contohnya, dua anak yang mempunyai perasaan takut terhadap binatang kecoa. Anak
pertama takut terhadap binatang kecoa, karena binatang kecoa yang menjijikan,
sedangkan anak yang kedua merasa geli bila disentuh kakinya.
“Dari suasana afektif yang ada pada
individu tersebut, maka perkembangan afektif pada individu terjadi karena adanya
sesuatu yang terjadi pada saat mengalami, melihat, menghadapi, mendengar, dan
merasakan suatu situasi yang terjadi padanya” (Baraja, 2008).
Faktor-faktor
Perkembangan
Bakat atau pembawaan. Anak dilahirkan dengan membawa
bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat diumpamakan sebagai bibit kesanggupan
atau bibit kemungkinan yang terkandung dalam diri anak. Setiap anak memiliki
bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya, seperti bakat musik, seni, agama,
akal yang tajam dan sebagainya. Anak yang mempunyai bakat musik misalnya,
niscaya minat dan perhatiannya akan sangat besar terhadap musik. Dengan
demikian jelas bahwa bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan anak.
Sifat-sifat
keturunan. Sifat anak diturunkan dari orang tua atau nenek moyang dapat
berupa fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka, bentuk badan,
suatu penyakit. Sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, pemarah,
pendiam, dan sebagainya. Dengan demikian jelas bahwa sifat-sifat keturunan itu
menentukan perkembangan seseorang.
Pengalaman. Pengalaman dengan heriditas fisik
merupakan dasar perkembangan struktur kognitif. Dalam hal ini sering kali
disebut sebagai pengalaman fisis dan logika matematis. Kedua pengalaman ini
secara psikologi berbeda. Pengalaman fisis melibatkan objek yang kemudian
membuat abstraksi dari objek tersebut. Sedangkan pengalaman logika matematis
merupakan pengalaman di mana diabstraksikan bukan dari objek melainkan dari
akibat tindakan terhadap objek.
Transmisi sosial. Transmisi sosial digunakan untuk
mempresentasikan pengaruh budaya terhadap pola berpikir anak. Penjelasan dari
guru, orang tua, informasi dari buku, meniru, merupakan bentuk transmisi
sosial. Kebudayaan memberikan hal-hal penting bagi perkembangan kognitif,
seperti dalam membaca, dapat menerima transmisi sosial apabila anak dalam keadaan
mampu menerima informasi. Untuk menerima informasi itu terlebih dahulu anak
harus memiliki struktur kognitif yang memungkinkan anak dapat mengasimilasikan
dan mengakomodasikan informasi tersebut.
Ekuilibrasi. Merupakan keadaan di mana
diri setiap anak terdapat proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan ketiga
faktor tadi, yaitu heriditas, pengalaman, dan transmisi sosial. Alasan yang
memperkuat adanya ekuilibrasi, yaitu di mana anak secara aktif berinteraksi
dengan lingkungan. Akibat dari interaksi itu anak berhadapan dengan kontradiksi,
yaitu apabila situasi pada pola penalaran yang lama tidak dapat menanggapi
stimulus. Kontradiksi ini menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang. Dalam
keadaan ini individu secara aktif mengubah pola penalarannya agar dapat
mengasimilasikan dan mengakomodasikan stimulus baru yang disebut ekuilibras. (Sumanto,
2014)
Proses Perkembangan Anak
dari 0-4 Tahun
Secara fisik. Perkembangan fisik anak selalu
berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi ank-anak.
Proses perkembangan
fisik anak pada usia 0-1 tahun.
Proses perkembangan usia 0-1 tahun, yaitu (a) meraih benda, (b) bertepuk
tangan, dan (c) berjalan sambil berpegangan pada meja.
Proses perkembangan fisik anak pada usia
1-2 tahun. Proses
perkembangan usia 0-1 tahun,yaitu (a) berjalan tanpa bantuan, (b) mulai
berlari, (c) melambaikan tangan, dan (d) menendan bola.
Proses
perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun. Proses perkembangan usia 2-3
tahun, yaitu (a) memanjat, (b) megang pensil seperti menulis, dan (c) mengayuh
sepeda roda tiga.
Proses
perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun. Proses perkembangan usia 3-4
tahun, yaitu dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki, dan gigi susu sudah
lengkap.
Simpulan
Perkembangan
anak merupakan hal yang selalu menadapat perhatian ekstra dari orangtua sebagai
pemerhati sekaligus pendamping. Perkembangan bermakna perubahan yang pada awalnya
anak hanya bisa melirik atau menolehkan kepalanya kearah orangtuanya,
merangkak, berjalan, sampai akhirnya berdiri. Terdapat banyak prinsip-prinsip
dari perkembangan anak tersebut, contohnya perkembangan anak yang mempunyai
ciri khas tingkah laku atau ciri khas tubuh. Perkembangan anak juga mempunyai
faktor-faktor yang mendasari, yaitu bakat, keturunan, pengalaman, transmisi
sosial, dan ekuilibrasi. Sehingga perkembangan anak berbeda-beda macamnya
tergantung dari karakteristik anak tersebut dan lingkungannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Baraja, A. (2008). Psikologi perkembangan tahapan-tahapan dan
aspek-aspeknya dari 0 tahun sampai akil baligh
(3rd ed.). Jakarta: Studia Press.
aspek-aspeknya dari 0 tahun sampai akil baligh
(3rd ed.). Jakarta: Studia Press.
Dariyo, A. (2007). Psikologi perkembangan anak tiga tahun
pertama. Bandung: Refika Aditama.
pertama. Bandung: Refika Aditama.
Desmita. (2006). Psikologi perkembangan (2nd ed.). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Remaja Rosdakarya.
Gunarsa, S. D., dan
Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi
perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Sumanto. (2014). Psikologi perkembangan fungsi dan teori
(1st ed.). Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service.
(1st ed.). Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service.
Susanto, A. (2011). Perkembangan anak usia dini: Pengantar
dalam berbagai aspeknya (1st ed.). Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
dalam berbagai aspeknya (1st ed.). Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar